Hidup Tanpa Listrik di Rano
Oleh: Noval A. Saputra
“ ... Ambilkan bulan bu, Ambilkan bulan bu, untuk
menerangi, hidupku yang gelap di malamlah..."
Bait lagu anak-anak ini didendangkan saat bulan
menerangi dusun Rano Desa
Uemanje Kecamatan Kinovaro Kabupaten Sigi. Pada
saat bulan purnama anak-anak bermain
dan bernyanyi di luar rumah untuk menunjukkan
bagaimana gembiranya anak-anak jika
ada yang menerangi.
Kita bisa membayangkan pada saat
malam hari seperti apa keadaan di dusun
tersebut “Gelap Gulita di Desaku,terang benderang
di langitku” perumpamaan ini sangat
layak jika kita hubungkan dengan kondisi di Dusun
Rano. Masalah ini sudah sering
didiskusikan pada musrenbang tingkat Desa sampai
Kecamatan tetapi kenyataannya pada
saat ini sama sekali salah satu kebutuhan
masyarakat tersebut tidak pernah terealisasikan
dan tidak pernah menjadi prioritas pemerintah
kabupaten.
Usulan agar listrik masuk ke Rano sudah diajukan
sejak 3 tahun lalu. Terakhir
diusulkan pada musrembang tingkat desa pada tanggal
15 april 2014 maupun tingkat
kecamatan pada tanggal 15 agustus 2014 – namun
belum ada realisasi, ungkap Amir (36
tahun, warga Rano).
Jumlah kepala keluarga yang
hidup tanpa listrik di Dusun Rano sebanyak 75 KK
dengan 308 Jiwa. Anak-anak yang bersekolah tidak
dapat belajar pada malam hari karena
ketiadaan listrik – belum lagi akses masyarakat
pada informasi, masyarakat setempat
harus berjalan kaki ke dusun tetangga untuk
menonton televisi untuk mendapatkan informasi
dan hiburan.
Kepentingan dan kebutuhan
masyarakat harus segera di penuhi seperti halnya kondisi
kekinian warga Dusun Rano yang masih belum
tersentuh aliran listrik. Bukankah ini salah
satu penunjang dari tercapainya kesejahteraan
masyarakat?
luar biasa kaka ini
BalasHapusMasih belajar lee
HapusMasih belajar lee
Hapus