Jumat, 29 Januari 2016

Hidup Tanpa Listrik di Rano




Hidup Tanpa Listrik di Rano

Oleh: Noval A. Saputra


“ ... Ambilkan bulan bu, Ambilkan bulan bu, untuk menerangi, hidupku yang gelap di malamlah..."

Bait lagu anak-anak ini didendangkan saat bulan menerangi dusun Rano Desa

Uemanje Kecamatan Kinovaro Kabupaten Sigi. Pada saat bulan purnama anak-anak bermain

dan bernyanyi di luar rumah untuk menunjukkan bagaimana gembiranya anak-anak jika

ada yang menerangi.

Kita bisa membayangkan pada saat malam hari seperti apa keadaan di dusun

tersebut “Gelap Gulita di Desaku,terang benderang di langitku” perumpamaan ini sangat

layak jika kita hubungkan dengan kondisi di Dusun Rano. Masalah ini sudah sering

didiskusikan pada musrenbang tingkat Desa sampai Kecamatan tetapi kenyataannya pada

saat ini sama sekali salah satu kebutuhan masyarakat tersebut tidak pernah terealisasikan

dan tidak pernah menjadi prioritas pemerintah kabupaten.

Usulan agar listrik masuk ke Rano sudah diajukan sejak 3 tahun lalu. Terakhir

diusulkan pada musrembang tingkat desa pada tanggal 15 april 2014 maupun tingkat

kecamatan pada tanggal 15 agustus 2014 – namun belum ada realisasi, ungkap Amir (36

tahun, warga Rano).

Jumlah kepala keluarga yang hidup tanpa listrik di Dusun Rano sebanyak 75 KK

dengan 308 Jiwa. Anak-anak yang bersekolah tidak dapat belajar pada malam hari karena

ketiadaan listrik – belum lagi akses masyarakat pada informasi, masyarakat setempat

harus berjalan kaki ke dusun tetangga untuk menonton televisi untuk mendapatkan informasi

dan hiburan.

Kepentingan dan kebutuhan masyarakat harus segera di penuhi seperti halnya kondisi

kekinian warga Dusun Rano yang masih belum tersentuh aliran listrik. Bukankah ini salah

satu penunjang dari tercapainya kesejahteraan masyarakat?