Selasa, 13 September 2016

BERSAMA HIMASOS



HITAM PUTIH
HIMASOS FISIP UNTAD

BERSAMA HIMASOS

Oleh : Noval Apek Saputra

Berani menyatakan sikap untuk bergabung bersama hitam putih

Energi–energi positif, militan, dan proggresif mengarah pada sebuah kemartabatan manusia

Reorientasi hitam putih menuju manusia sejati

Sejarah di hitam putih kan selalu meninggalkan kenangan perjuangan

Andai mesin waktu bisa di putar, betapa senang hati ini untuk kembali

Menjadi bagian keluarga besar hitam putih, mempunyai cerita tersendiri

Aku dan kalian satu, hitam putih yang abadi

   Himasos rumahku, himasos tempat belajarku

   Ingatkan, ingatkan dan gelorakan perlawanan terhadap pembodohan dan kemiskinan

   Melawan, melawan dan terus melawan untuk perubahan atas nama kemanusiaan 

   Amarah dan juangmu di butuhkan, saat penindasan sedang berlangsung

   Semangat kolektivmu, adalah pelopor yang tak di ragukan

  Oh Tuhan, Terima kasih Engkau telah mempertemukanku dengannya si Hitam Putih dalam suka duka yang di alami

   Sungguh gembiranya hatiku yang paling dalam, bisa menjadi bagian dari sejarah si Hitam Putih

Palu, 18 Desember 2015.
Pukul 06.59 WITA “Polibu Himasos Fisip Untad”
         

 "Sebuah refleksi dari pribadi kecil bersama HIMASOS"


Jumat, 29 Januari 2016

Hidup Tanpa Listrik di Rano




Hidup Tanpa Listrik di Rano

Oleh: Noval A. Saputra


“ ... Ambilkan bulan bu, Ambilkan bulan bu, untuk menerangi, hidupku yang gelap di malamlah..."

Bait lagu anak-anak ini didendangkan saat bulan menerangi dusun Rano Desa

Uemanje Kecamatan Kinovaro Kabupaten Sigi. Pada saat bulan purnama anak-anak bermain

dan bernyanyi di luar rumah untuk menunjukkan bagaimana gembiranya anak-anak jika

ada yang menerangi.

Kita bisa membayangkan pada saat malam hari seperti apa keadaan di dusun

tersebut “Gelap Gulita di Desaku,terang benderang di langitku” perumpamaan ini sangat

layak jika kita hubungkan dengan kondisi di Dusun Rano. Masalah ini sudah sering

didiskusikan pada musrenbang tingkat Desa sampai Kecamatan tetapi kenyataannya pada

saat ini sama sekali salah satu kebutuhan masyarakat tersebut tidak pernah terealisasikan

dan tidak pernah menjadi prioritas pemerintah kabupaten.

Usulan agar listrik masuk ke Rano sudah diajukan sejak 3 tahun lalu. Terakhir

diusulkan pada musrembang tingkat desa pada tanggal 15 april 2014 maupun tingkat

kecamatan pada tanggal 15 agustus 2014 – namun belum ada realisasi, ungkap Amir (36

tahun, warga Rano).

Jumlah kepala keluarga yang hidup tanpa listrik di Dusun Rano sebanyak 75 KK

dengan 308 Jiwa. Anak-anak yang bersekolah tidak dapat belajar pada malam hari karena

ketiadaan listrik – belum lagi akses masyarakat pada informasi, masyarakat setempat

harus berjalan kaki ke dusun tetangga untuk menonton televisi untuk mendapatkan informasi

dan hiburan.

Kepentingan dan kebutuhan masyarakat harus segera di penuhi seperti halnya kondisi

kekinian warga Dusun Rano yang masih belum tersentuh aliran listrik. Bukankah ini salah

satu penunjang dari tercapainya kesejahteraan masyarakat?